Perjalan perjuangan pejuang hisbullah dari Ujung semi pada tahun 1945
TAK banyak orang tahu bahwa di Desa Ujungsemi, Kecamatan Kaliwedi, Kabupaten Cirebon, terdapat sedikitnya 72 makam pahlawan. Bahkan kalau ditelusuri lebih dalam, di sejumlah tempat lain di sekitarnya, terdapat pula ratusan persemayaman terakhir pejuang yang kebanyakan berasal dari kaum santri dan kiai, yang gugur saat mengusir penjajah.
Berdasarkan
penelusuran CNC, para pejuang yang dimakamkan di Ujungsemi adalah mereka
yang gugur saat menghambat serangan tentara Belanda yang ingin
menghancurkan markas Laskar Hisbullah, yang saat itu berada di Blok
Bundel, Desa Slendra, Kecamatan Kaliwedi, Kabupaten Cirebon. Peristiwa
itu terjadi pada medio Nopember 1947.
"Waktu perang
melawan Belanda di Desa Ujungsemi teman-teman saya banyak yang gugur.
Jumlahnya ada sekitar 72 pejuang dan mereka semua dimakamkan di sana,"
kata Khasan (82), warga Desa Desa Ujungsemi yang menjadi saksi hidup
perjuangan melawan penjajah.
Meski pada
akhirnya Belanda memenangkan perang di Ujungsemi tersebut, kata Khasan,
para pejuang sempat melumpuhkan pasukan Belanda pada saat mereka
menyerang markas pejuang di Desa Slendara. "Pada saat pertempuran di
Bundel seluruh pasukan Belanda bisa kita lumpuhkan dan kita berhasil
merampas seluruh senjata mereka," kata prajurti veteran tersebut.
Komandan Rayon
Militer Gegesik, Kapten Sunento, membenarkan adanya bukti sejarah
perjuangan kaum santri melawan para penjajah tersebut. Sunento
mengatakan, perang di Ujungsemi terjadi pada Bulan November 1947. Laskar
Hisbullah di bawah pimpinan Kyai Anas berjuang melawan tentara Belanda
yang memiliki persenjataan yang lebih canggih.

"Dalam
pertempuran di perbatasan Desa Ujungsemi dan Desa Wargabinangun
tersebut, sebanyak 72 pejuang gugur menjadi syuhada," kata Sunento.
Lebih lanjut
Sunento mengemukakan, bisa jadi tentara musuh gemas dengan para pejuang
dari Cirebon yang getol melakukan perlawanan. Bahkan, kata, dia, banyak
yang tidak tahu jika kaum santri Cirebon ikut andil dalam pertempuran 10
November 1945 di Surabaya.
"Pada saat peristiwa 10 November di Surabaya, para pejuang di Cirebon ikut menghambat pasokan amunisi lawan. Bahkan, mereka sempat menghancurkan jembatan Kereta Api di Kaliwedi untuk memutus pasokan amunisi belanda," tutur Sunento.
"Pada saat peristiwa 10 November di Surabaya, para pejuang di Cirebon ikut menghambat pasokan amunisi lawan. Bahkan, mereka sempat menghancurkan jembatan Kereta Api di Kaliwedi untuk memutus pasokan amunisi belanda," tutur Sunento.
Untuk
menghormati para pejuang kemerdekaan tersebut, kata Sunento, setiap
peringatan 10 November dilakukan Upacara penghormatan di Taman Makam
Pahlawan Ujungsemi. Namun, upacara untuk mengenang jasa para pahlawan
tersebut baru diikuti pejabat di tingkat kecamatan setempat.
"Setiap 10 November kami melakukan upacara di TMP Ujungsemi, namun baru diikuti muspika dua kecamatan yakni Kaliwedi dan Gegesik," kata Sunento.
"Setiap 10 November kami melakukan upacara di TMP Ujungsemi, namun baru diikuti muspika dua kecamatan yakni Kaliwedi dan Gegesik," kata Sunento.
Menurut
Sunento, sejumlah kalangan menginginkan TMP Ujungsemi diresmikan menjadi
Taman Makam Pahlawan. Apalagi, Kabupaten Cirebon belum memiliki TMP.
"Termasuk kami menginginkan Pemda menjadikan TMP Ujungsemi jadi TMP resmi sehingga setiap peringatan 10 November tidak numpang di TMP Kesenden Kota Cirebon," kata Sunento.
"Termasuk kami menginginkan Pemda menjadikan TMP Ujungsemi jadi TMP resmi sehingga setiap peringatan 10 November tidak numpang di TMP Kesenden Kota Cirebon," kata Sunento.
Kepala Desa
Ujungsemi, Hasan Busro, menilai perhatian dari pemerintah daerah
setempat masih kurang. Pihaknya meminta Bupati memperbaiki akses jalan
ke TMP diperbaiki.
"Belum lama ini Bupati memang pernah memberikan bantuan tapi baru untuk pemugaran makam," ujar Bosro. (Tim CNC)
Di ambil dari: CirebonNews.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar